Hangatnya Cinta Ayahku Sebesar Cinta Ibuku [renungan]



Hangatnya Cinta Ayahku Sebesar Cinta Ibuku [renungan] [ www.BlogApaAja.com ]

Jika cinta seorang ibu diibaratkan sepertimadu yang manis, maka cinta seorang ayah adalah segelas teh hangat yangmenenangkan. Rasanya memang tak semanis madu, tetapi ada kenyamanan dankehangatan di sana. Inilah kisahku tentang seorang ayah yang hebat.

Namaku Tia, sekarang usiaku 22 tahun. Ibumeninggal saat aku berusia 5 tahun karena mengalami pendarahan saat mengandungadikku. Kejadian itu memisahkan aku dengan ibu dan calon adikku selamanya.Otomatis, hanya ada aku dan ayah yang menjadi bagian dari keluarga kecil inisetelah kepergian ibu.

Aku melewati masa kecil yang membahagiakanbersama ayah. Sebagai orang tua tunggal, ayah mendapat bantuan dari seorangpengasuh sekaligus pembantu rumah tangga untuk menjagaku saat ayah bekerja.Sedangkan saat malam tiba, secapek apapun setelah pulang kerja, ayah selaluberada di sampingku untuk membacakan dongeng sebelum aku tidur.

Sebagai orang tua tunggal, ayah berusahasangat keras untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Ayah tidak keberatanmembantuku mengerjakan PR, belajar mengaji atau bermain petak umpet di hariminggu. Aku masih ingat dengan pelukan hangat ayah saat aku menangis karenateman-teman selalu pulang sekolah dijemput ibu, sedangkan aku dijemput bibi(pengasuhku).

Saat aku kecil, aku memang iri denganteman-temanku yang masih bisa memeluk ibu mereka. Aku berkali-kali bertanyapada ayah kenapa Tuhan mengambil ibu. Ayah bilang, karena Tuhan tahu apa yangterbaik untuk ibu, untuk ayah dan untukku.

"Tapi Tia kangen ibu," selalu begiturengekanku pada ayah.

Jika sudah begitu, akan akan memeluk danmengusap pelan punggungku. "Kan masih ada ayah yang sayang Tia,"jawab ayah.

Dengan pelukan itu saja, aku sudah bisatersenyum dan kembali merasakan pelukan ibu yang lama tidak kurasakan. Sepertiada sentuhan tangan ibu di sana, dalam pelukan ayahku. Karena itulah aku sangatmenjaga ayah dalam versi pemikiran seorang anak kecil. Saat itu, aku tidak maujika ayah menikah lagi. Aku tidak mau punya ibu tiri yang jahat sepertiCinderella atau ibu tiri kejam seperti kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.

Entah karena ingin memenuhi permintaanku atautidak, ayah tidak menikah untuk kedua kalinya. Aku tahu ayah sangat mencintaimendiang ibu. Sering aku melihat ayah menatap foto pernikahan mereka yangterpajang di ruang keluarga. Ayah tidak pernah mengatakan apapun, tetapi daritatapan mata dan lengkung senyumnya, aku tahu ayah selalu merindukan ibu.

Hangatnya Cinta Ayahku Sebesar Cinta Ibuku [renungan] [ www.BlogApaAja.com ]

Satu hal yang membuatku kagum pada ayah adalahsikapnya yang tidak pernah malu melakukan berbagai tugas wanita. Misalnya saja,mengikat rambutku dengan model ekor kuda atau mengepangnya. Jujur, hasil ekorkuda atau kepang ayah tak pernah sebagus dan serapi ibuku, tetapi aku sangatmenghargainya. Bagiku, tidak ada hasil kepang sebaik yang dilakukan ayah.

Dari semua peristiwa yang sudah aku lewatibersama ayah, yang paling membekas adalah saat aku mendapat menstruasi pertama.Aku tahu aku akan mengalaminya dari penjelasan guruku di sekolah, tetapi saataku benar-benar mengalaminya, aku panik. Sekali lagi, ayah yang menenangkanku.Beliau menjelaskan apa yang terjadi padaku tanpa terlihat canggung. Hal itusangat membantuku, karena aku masih nol besar untuk tahu perubahan apa yangakan terjadi pada tubuhku.

Hingga saat ini, aku sangat menghargai apayang dilakukan ayah saat itu. Bukan hal yang mudah bagi seorang ayah untukmenjelaskan apa itu menstruasi pada anak perempuannya. Termasuk bagaimana cara menjagakehormatan karena aku sudah memasuki proses menjadi wanita dewasa. Rasahormatku semakin bertambah. Tentunya tanpa menghilangkan rasa hormatku padamendiang ibu.

Masa puber dan remaja aku lewati tanpa masalahberarti. Sekali lagi, ayah yang menjagaku. Ketika aku mulai mengenal apa itujatuh cinta, ayah juga yang selalu mendengarkan sekaligus memberi informasiseperti apa sikap seorang pemuda yang baik. Jika remaja putri pada umumnyamenjauhi orang tua dan lebih dekat dengan teman-temannya, aku tetap dekatdengan ayah.

"Kenapa ayah tidak menikah lagi? Supayabisa makan enak setiap hari," tanyaku pada suatu hari. Aku sudah cukupdewasa, ayah juga tidak sekuat dulu. Aku pikir, tidak masalah jika ayah menikahlagi agar ada seseorang yang menemaninya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisamenjamin bisa berada di samping ayah sepanjang waktu. Rasanya sangat egois jikaaku masih memintanya untuk tidak menikah lagi.

Ayah hanya tersenyum dan menjawab, "Egoissekali jika ayah menikahi seorang wanita hanya karena ingin makan enak setiaphari." Aku tahu, hingga saat ini, ayah masih mencintai dan merindukan ibu.

Kini, usiaku 22 tahun, beberapa bulan lagi akuakan mendapat gelar sarjana. Ada banyak harapan agar aku bisa membahagiakanayah. Setidaknya sedikit saja, karena aku tidak yakin bisa menggantikan cintadan kasih sayang ayah yang sangat luar biasa.

Ayahku bukan ayah yang sempurna, aku tahu itu,tetapi cinta dan kasih sayangnya selalu membekas untukku. Sekarang, aku sudahterlalu dewasa untuk mendapat kepang atau rambut ekor kuda dari ayah. Ah..betapa aku merindukan masa-masa sekolah dasar dulu.

Sahabat, cinta dan kasih sayang seorang ibumemang tidak akan habis, ada surga di sana. Tetapi jangan lupakan sosok seorangayah yang memberikan cintanya pada Anda.

Seorang ayah tidak akan mengatakan bahwa diamencintai Anda, dia akan membuktikannya dengan perbuatan

. - Demitri TheStoneheart


Follow On Twitter